Saya mendapat kabar luar biasa ini dari seorang teman. Khatulistiwa Literary Award (KLA) diselenggarakan untuk mendukung perkembangan sastra di Indonesia. Penghargaan ini diberikan kepada penulis yang karyanya dipilih oleh dewan juri sebagai karya terbaik dalam kurun waktu 12 bulan sebelum masa penjurian. KLA pertama diadakan tahun 2001. Sehubungan dengan itu, Orange masuk dalam longlist KLA 2008 untuk kategori Penulis Muda Berbakat.

Silakan tilik halaman ini untuk informasi lebih lengkap.

Read More...

(Tautan) Orange di Goodreads


Silakan bergabung dengan pembaca Orange lainnya di Goodreads dan tulis review kamu!

Read More...

(Kabar) Cetak Kedua Orange


Saya mendapat kabar gembira ini dari Christian, Orange naik cetak untuk kedua kalinya, kurang lebih 6 minggu setelah cetakan pertama beredar. Di beberapa toko buku (offline maupun online), buku ini juga terpilih sebagai Book of August. Sehubungan dengan itu saya ingin mengucapkan terima kasih kepada banyak teman, yaitu:

Christian Simamora, yang mempercantik sinopsis pada sampul belakang Orange.
Dwi Anisa A., yang mendesain cover Orange. Banyak sekali pembaca yang tertarik dengan buku ini karena cover ciamik Anisa.
Redaksi Gagas, yang membuat tagline yang menyentuh.
Tim Promosi Gagas, yang kreatif.

Oktiva Pajarini dan Rizki, para pendiri komunitas Kemudian, yang memasang banner Orange di situs kemudian.com selama satu bulan.

Ari Wijaya, yang meminta saya on air di DFM begitu mendengar kabar terbitnya Orange.

Dan pastinya para pembaca, yang memutuskan untuk memiliki novel ini.

Read More...


ORANGE on air
Ari Wijaya
Windry Ramadhina
Christian Simamora

Senin, 28 Juli 2008
16.00 s.d. 17.00 WIB
di 103.4 FM atau streaming live

ngobrol santai seputar novel Orange
plus bagi-bagi buku dan merchandise
untuk pendengar D'Radio

Read More...

The Sweet Aroma of Lavazza


Lavazza? Hanya laki-laki melankolis yang minum Lavazza.”

Masih teringat jelas dalam ingatanku, Diyan. Kau datang mengejarku untuk kedua kalinya ke bandara. My flight was delayed and i went to a lounge to have coffee. Secangkir Lavazza yang kupesan kala itu, entah mengapa, bukan black coffee yang biasa kuminum tapi justru espresso kesukaanmu.

Mungkin itu bentuk ucapan perpisahan yang tidak sempat kusampaikan. Atau lebih tepatnya, tidak berani kusampaikan. Atau mungkin sesungguhnya dalam hatiku yang terdalam, aku tidak ingin pergi. But did i have a choice that time?

I’m not quite fond of Lavazza. Brand kopi klasik Italia itu penuh tumpukan lapisan rasa. Meminum Lavazza seperti berhadapan denganmu: complicated. Tapi toh aku jatuh cinta juga padamu. Dan saat itu di bandara, aku membuai diri dalam wangi Lavazza di hadapanku. Aroma dirimu.

Lucu. Aku tidak terkejut saat kau menemukanku di dalam lounge itu. Pasti gadis itu yang memberitahu kepergianku, padahal aku ingin pergi tanpa kau ketahui. Dan aku memberanikan diri untuk menatapmu, tetapi emosi yang kauperlihatkan lewat kedua matamu tidak dapat kumengerti.

Delay?” kau bertanya. Aku hanya tersenyum pahit, lalu kau memesan black coffee.

“Kau suka black coffe sekarang?” aku balik bertanya setelah melepaskan tawa kecil yang hambar.

“Kau sudah menggantikanku minum espresso,” jawabmu penuh canda dan kita berdua sama-sama tertawa.

Tidak lama. Dengan cepat tawa itu menghilang dan kembali kita saling menatap dalam diam, sampai aku hampir bisa mendengar setiap ucapan yang dilontarkan dalam keramaian lounge. Entah apa yang sedang kaupikirkan tapi aku punya satu pertanyaan yang takut kuketahui jawabannya.

Apakah kau datang untuk mencegahku pergi? Atau untuk melepaskanku?

“Jika kita sudah lebih dewasa, Diyan, saat ambisi dan harga diri tidak ada lagi di antara kita. Apakah kita masih bisa bersama?”

Kala itu tidak akan kubiarkan kau menjawab karena aku tidak ingin mendengar penolakan dari bibirmu. Maka segera kuhabiskan Lavazza yang masih tersisa, lalu aku bangkit berdiri untuk beranjak pergi.

Masih sangat jelas juga dalam ingatan ini. Kau mengejarku dan menarikku ke dalam pelukanmu untuk terakhir kalinya. Aku menangis di bahumu dalam rengkuhan lenganmu yang kuat, membiarkan air mata keluar sebanyak yang kuinginkan.

Entah berapa jam aku menunda kepergianku hari itu. Kita duduk bersebelahan di ruang tunggu bandara, melewatkan penerbangan ke Paris hanya untuk membicarakan masa lalu.

“Mungkin sesekali aku bisa mengunjungimu ke Paris,” kau berkata di ujung pembicaraan kita.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Melihat fashion show yang kau ikuti, makan malam bersama setelahnya, minum wine sampai kau mabuk, lalu kita bisa bercinta sampai pagi.” Matamu menatapku. Sebuah senyuman menyertainya. “Seperti dulu.”

Aku tertawa. Getir. Ah, Diyan. Untuk apa semua itu jika tidak ada akhir yang bisa kita miliki? Hanya lewat tatapan sedih aku menjawab ucapanmu dan kusadari bahkan dirimu tahu yang kaukatakan itu hanya harapan kosong. There’s nothing can be done about us. Both of us were too childish. Too proud to let go our ambition. Dan karena itu, kita kehilangan cinta.
Cinta yang dulu lahir dari obrolan menemani dua cangkir Lavazza dan black coffee, yang kita temukan di dalam sebuah kafe di Gare du Nord bertahun-tahun yang lalu. Cinta yang cepat atau lambat pasti akan kita lepaskan.

Lalu kau memberiku ciuman perpisahan, membiarkan diriku tenggelam sekali lagi dalam aroma Lavazza milikmu yang memabukkan. Bibir kita berpagut lama, begitu perlahan, begitu pahit, sampai dada ini terasa sesak saat kau menarik diri.

“Mencintaimu Rera, adalah hal terindah yang pernah kualami,” adalah kata-katamu yang terakhir kudengar, kaubisikkan begitu lirih di telingaku dengan gemetaran.

Aku mengambil tiket penerbangan ke Paris yang masih bisa kudapatkan malam itu dan meninggalkanmu sekali lagi tanpa sedikit pun keraguan pada akhirnya. Kali itu, kau tidak memanggilku. Kau juga tidak lagi mencegahku.

Kali itu, semua benar-benar berakhir.

Le Rendez-Vous des Belges,” ucapku pada pertemuan pertama kita di Paris lima tahun yang lalu. ”They have great coffees. Pick me up at eight and i will show you the place.” Saat itu, di antara riuh pesta penutupan sebuah fashion show, aku jatuh cinta padamu, Diyan.


Jakarta, 1 Agustus 2007
Sebuah cerita pendek yang ditulis untuk Rera. Cerita ini kemudian menjadi bagian dari novel Orange.

Read More...

Ucapan Terima Kasih


UCAPAN terima kasih kusampaikan kepada Andya Primanda, Kinu Triatmojo, Ayu Prameswary, Winna Efendi, Sefryana Khairil, Malia Hartati, Andita Primanti, David Ezra, Laras Bening, Purbasari, Hara Hope, Dadan Erlangga, Hanny Kusumawati, Heidy Koesnaeni, Anjar Titisari, I.B.G. Wiraga, Oktiva Pajarini dan Rizki, Komunitas Penulis KEMUDIAN, Gunawan Maryanto, A.S. Laksana, Yusi Pareanom, keluarga tercinta, dan terutama untuk Christian Simamora serta Resita Febiratri di Gagasmedia.

Read More...

(Karakter) Erod


Erod Matin

Sosok yang menemukan bakat besar Faye adalah Erod Matin, fotografer pemilik salah satu studio foto ternama di Asia. Mereka bertemu di New York, pada sebuah pameran foto karya fotografer-fotografer amatir. Saat itu Faye belum menyelesaikan kuliahnya. Begitu Faye kembali ke Indonesia, Erod tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera mengajak Faye bergabung dengan studionya.

Erod tidak suka basa-basi dan seringkali mengeluarkan komentar-komentar bernada sindiran yang diucapkan dengan datar. Sikapnya tidak bersahabat dan untuk seorang lelaki, Erod sangat cerewet.

Tokoh ini terinspirasi dari teman saya, seorang editor yang berlidah tajam. Tapi jangan salah, dia tidak mencela orang karena masalah pribadi. Dia berstandar tinggi dan sangat jujur. Itu saja.

Read More...

(Karakter) Rei


Rei Adnan

Sepupu jauh Diyan ini memiliki sedikit saham perusahaan keluarga Adnan, maka Rei bekerja sebagai asisten Diyan. Ia cekatan, cermat, dan penuh pertimbangan. Ia mengurus hampir semua urusan Diyan; mencatat banyak hal, membuat jadwal kegiatan, dan mengingatkan Diyan mengenai jadwal tersebut. Ke mana pun Diyan pergi, Rei selalu mengikuti.

Rei tidak pernah memihak, tetapi ia akan memperingati Diyan jika sepupunya itu mengambil keputusan yang salah. Ia berani berkata terus terang tanpa peduli bahwa ucapannya mungkin akan menyakiti perasaan orang lain. Sayangnya, Diyan sering tidak mendengarkan omelannya itu dan Rei terpaksa repot saat keadaan sudah runyam karena ia harus membereskan masalah yang dibuat oleh Diyan.

Read More...

(Karakter) Rera


Rera

Mawar dan kayu ciphre. Seperti itulah Rera, mantan kekasih Diyan. Cantik, cerdas, dan mandiri. Ia adalah gadis Indonesia peranakan Prancis yang lama hidup di Paris sejak orang tuanya berpisah. Ia dibesarkan di dunia fashion dan kini menjadi salah satu top model Asia yang dikontrak oleh sejumlah brand ternama.

Pembawaan Rera begitu tenang, tegas dan dingin. Ia terbiasa hidup sendiri, sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang sangat egois. Kata-katanya begitu berani, bahkan cenderung bernada sinis. Karena itu, tidak semua laki-laki berani berurusan dengannya.

Tapi Rera bukan tipe gadis yang cengeng karena kesepian. Ia memilih untuk membatasi kehidupan sosialnya dan ia menikmati itu. Mungkin, tokoh ini lahir dari salah satu alter ego saya yang bermimpi hidup menyepi di sebuah unit apartemen yang jauh dari jangkauan keluarga atau kenalan, hanya ditemani seekor kucing, dan tidak perlu pusing bersosialisasi.

Secara pribadi, saya sangat menyukai hubungan antara Diyan dan Rera. Konflik cinta mereka terinspirasi dari Nana dan Ren dalam komik Nana karya Ai Yazawa. Menarik rasanya, memperlihatkan hubungan dua orang berambisi besar yang sesungguhnya saling mencintai tapi terlalu egois untuk berkorban.

Read More...

(Karakter) Zaki


Zaki Adnan

Zaki adalah adik Diyan yang memiliki perbedaan usia dua tahun. Berbeda dengan Diyan, Zaki tidak tertarik untuk meneruskan bisnis keluarga. Ia lebih menyukai seni dan mengambil kuliah advertising di DELF tanpa izin keluarga. Bentrok dengan orang tuanya mengenai masalah visi, ia keluar dari rumah dan memutuskan untuk hidup sendiri.

Ia tipe pemuda yang selalu berterus terang dan tidak suka menyembunyikan perasaan, berpura-pura apalagi berbasa-basi. Zaki juga keras kepala dan seringkali tidak bisa diajak kompromi, dengan emosi yang mudah meledak-ledak.

Bersama ketiga temannya, Zaki merintis perusahaan periklanan. Ambisinya yang paling besar adalah menunjukkan pada keluarganya bahwa ia bisa sukses lewat jalan yang ia pilih sendiri, tanpa sedikitpun bantuan dari kekuatan keluarga besar Adnan.

Dunia Zaki sangat mirip dengan keseharian saya (saya seorang arsitek). Sosoknya dan teman-temannya seperti saya dan teman-teman saya. Kami kerap berkumpul di salah satu kafe di Cilandak Town Square. Memesan satu atau dua cangkir kopi agar bisa ngobrol santai berjam-jam sambil memandangi laptop. Dan baru pergi setelah salah seorang pelayan menyodorkan bill.

Read More...

Blogger Templates by Blog Forum